Ini kisah dan tauladan yang mama perolehi dari e-mail seorang sahabat….Sangat menarik untuk direnungi terutamanya di pagi Jumaat ini….Tapi maaf dong bahasanya dari seberang ya…Jom kita ikuti kisahnya.

Ini kisah sepasang suami-isteri dan anaknya. Ceritanya begini. Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak.

Suatu hari isteri hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua jiran tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Dapt anak… laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa,bukankah dia boleh bekerja dan membantu orang tuanya? Sungguh
beruntung ….kan mereka mempunyai anak laki-laki.

Anak tersebut sangat minat dengan kuda dan teringin nak seekeor. Tapi mereka miskin sehingga tak mampu nak membeli kuda tersebut. Jadi semua orang mengatakan bahwa mereka sial karena miskin, sehingga tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya,
kan bisa beli kuda? Sial benar.

Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang sering membeli kayu apinya. Jadilah anak itu dapat seekor kuda.
Semua orang mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh ? ada yang memberi kuda. Beruntung sekali.

Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatuhari, ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk,sehingga anak itu terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia menjadi pincang apabila berjalan.

Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya kuda, kan dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang.
Sial. Mengapa punya kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial sekali.

Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut terjadi peperangan dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi askar.Anak pasangan suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya risau kalau anak satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga merasa kasihan dan menyesali mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja. Kalau anak perempuan kan tidak harus berangkat berperang.
Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu melahirkan anak laki-laki?

Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai askar karena kakinya cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia tidak harus berperang. Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia pasti harus ikut berperang. Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu dia jatuh dari kuda. Untung kakinya pincang. Sungguh beruntung dia.

Dari cerita ini, sebenarnya apa yang untung dan apa itu sial?? Bila seorang disebut beruntung dan bila kurang beruntung? Ketika anak laki-laki yang lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus berperang, orang-orang mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja?

Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang karena jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa punya kuda. Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, kata orang dia beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung dulu punya kuda. Untung dia pincang.

Jadi, sebenarnya bila seseorang dikatakan sial dan bila pulak seseorang beruntung?
Apakah karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita katakan sial atau kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan keinginan kita, lalu musibah tersebut bisa berubah menjadi keberuntungan? Bilakah kita menyesali sesuatu? Bilakah kita mensyukuri sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial atau musibah hari ini,
mungkin boleh berubah menjadi untung di masa depan.

Melihat berkah

Mengapa? Mungkin karena kita belum boleh melihat blessings in disguise. Kita tidak melihat berkah dibalik musibah. Apa yang dilihat sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru kita sedar bahwa hal itu mengandung berkah.

Kisah berikut ini pernah saya tulis dari sudut pandang yang berbeda. Sekali waktu ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli tembakau (uish!katakan taknak pada rokok!). Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau(padan muka!). Tiba-tiba, dia berfikir “Tembakau sangat perlu. Tapi di
sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau saja ah.”

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku sangat.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka akaun. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi borang . Pegawai bank berkata “Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi.” Dengan tersenyum dia berkata “Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih menjadi penjaga gereja.”

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.

Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!